Rabu, 14 Maret 2012

Ketika Kehilangan Tak Lagi Bernama Luka

    Aku menyukainya bahkan semua tentangnya. Mungkin kau akan mengagapku terlalu berlebihan. Tapi dengarkan dulu teman cerita yang ingin kukisahkan kepadamu tentangnya yang pernah kuletakkan di ruang yang paling istimewa meski tak seharusnya ia tempati saat itu.
            Aku mengenalnya  ketika memasuki kelas dua dengan seragam putih abu-abu masih membungkus tubuhku, dari seorang teman. Ah tak perlu lagi kuceritakan secara detail kisah perkenalanku dengannya karena aku bukan ingin mengenang cerita lalu. Aku hanya ingin sedikit berbagi cinta untuk kau tetap tersenyum saat membaca potongan kalimatku.
            Dimataku dia hanya lelaki sederhana. Namun bijaksana walupun umurnya hanya terpaut satu tahun lebih tua dariku. Bukan hanya bijaksana tapi juga lembut. Hampir tak pernah kudengar ia memnunjukkan expresi kekesalan walaupun segunung kejengkelan telah kulakukan. Mungkin karena dia adalah keturunan jawa yang selalu identik dengan kelembutan.
            Bahkan dia teramat baik bagiku seperti Malaikat yang dikirimkan Tuhan. Ya, Malaikat. Tahukah kau teman? Dia hadir ketika aku dihadapkan dengan kenyataan yang amat pahit dalam hidupku. Kedua orang tuaku memutuskan untuk berpisah setelah tak menemui lagi kebahagiaan dalam satu hati. Yang membuat aku terhempas dalam deru ombak yang meluluh lantakkan hidupku. Dan dia hadir membawa jiwaku ke tepian  mengajariku mengeja tegar. Padahal hubungan yang kujalin dengannya hanya sebatas persahabatan. Yang kemudian persahabatan itu menumbuhkan rasa lain di hatiku dan juga hatinya.

            “Bahagiakah atau menyesalkah?” Dua kata yang yang harus kupilih setelah aku benar-benar menyadari rasa itu. Mungkin bagi remaja seusiaku akan merasakan perempuan paling bahagia karena cinta tak bertepuk sebelah tangan. Tapi bagiku ada setumpuk sesal atas rasa yang tumbuh walaupun saat itu aku sama sekali belum mengenal tarbiyah. Tapi aku sudah sangat paham rasa ini tak seharusnya kupupuk dari buku-buku islami yang kubaca dan juga ilmu agama yang kuperoleh dari SMA islam yang telah membawaku menggunakan jilbab lebar sejak menginjak putih abu-abu.
            Dan dia pun tahu akan prinsipku. Sangat menyesal telah menjadi parasit di imanku. Seharusnya aku lah yang menjadi parasit di imannya. Hingga aku dan dia memilih memutuskan semuanya tanpa ada janji satu kata pun diantara kami.
            Kuputusan yang kubuat tentu tak mudah teman bagi gadis seusia yang baru saja ingin meninggalkan masa remaja. Tapi aku terus meyakinkan hati bahwa janji Allah pasti selalu lebih indah. Hingga aku bertemu dengan luku pada senja yang bertabur di kaki langit yang mengiring pedih di sudut mataku setalah kuterima berita akan kecelakaannya yang membawanya ke ruang UGD. Masih kuingat teman detik-detik terakhir aku bertemu dengannya saat aku berkunjung ke sekolahnya untuk mengambil STTB. Dengan sikap ramah ia manyambutku namun kubalas dengan sikap dingin karena aku gugup harus berhadapan langsung dengannya. Hingga dia berpamitan pulang aku tetap bersipat dingin yang meninggalkan sebait sesal di hatiku. Yang kugantikan dengan kiriman setulus doa untuk kesembuhannya. Namun Allah memberikan jawaban lain dari doaku.
            5 Sepetember tepatnya memasuki hari ketiga Ramadhon. Allah memanggilnya untuk selamanya. Dia meninggal setelah hampir dua bulan mengalami koma. Tanpa sempat kuucapkan maaf dan terima kasih kepadanya. Kehilangannya membuat aku semakin mengenal luka karena aku bukan hanya kehilangan dia tapi kehilangan orang-orang yang dekat denganku setelah aku gagal tak mampu memasuki Universitas yang mereka pilihkan untukku. Aku dilempar dengan ribuan hujatan yang merubahku menjadi pribadi tertutup.
            “Andai saja dia masih ada, tentu masih ada tegar yang bisa kupertahankan.” Begitu pintaku saat itu yang membuatku terpuruk bertahun-tahun lamanya. hingga saat mulai kutinggalkan dunia putih abu-abu. Aku menemukan dunia baruku yang memepertemukan dengan Peri yang mengajariku tentang cinta.
            “Dik, dia yang Allah ambil adalah bukti cinta Allah pada Adik, akankah adik sia-siakan dengan selalu menyediakan ruang untuk alm.” Kata –kata itu menyentak hatiku. Seandainya dia masih hidup apakah aku benar-banar sanggup untuk tidak menjalin komunikasi dengannya sedangkan rasa itu mulai mekar. Kepergiannnya adalah jawaban terindah yang dipilihkan Allah.
            “Seandainya kita tidak dipertemukan di dunia, semoga Allah mempertemukan kita di syurga.” Sebaris kalimat ini lah yang pernah kukatakan kepadanya.
            Ya, semoga Allah mempertemukan kita kembali di syurga meski hanya sebagai sahabat karena Allah telah pilihkan bidadari yang pantas untukmu. Dan aku sungguh hanya ingin mencintaimu kerena Allah hingga kehilangan tak lagi bernama luka.
           
           
            Ditulis saat luka itu tak lagi meretas

3 komentar:

RUDI RENDRA mengatakan...

Gaya berkisah seperti OSD, hikmah di tiap hari2, dan melukis sejuta pelangi, untuk rekan para pembaca,

ematul hasanah mengatakan...

Terima Kasih, tapi OSD itu apa ya? sondtarck lagu ya?

Titik-Titik Kecil mengatakan...

ituw bukan OSD kak, tapi OST..