Senin, 11 Februari 2013

Kisah Seru Anak Asrama



          

Jika kata kebanyakan orang masa SMA adalah berwarna merah jambu, maka tidak begitu denganku yang memilih warna biru persahabatan sebagai bagian dari masa SMAku.   Kisah ini berawal dari tawaran keluargaku yang ingin sekali aku menjadi siswa di SMA  yang memiliki asrama.
“Gedung sekolahnya bertingkat, asramanya juga bertingkat lengkap dengan kolam renang.” Begitulah sekolah yang diceritakan kepadaku.
Tentu saja aku tergiur tanpa berfikir ulang untuk menolak. Namun siapa sangka gedung sekolah mewah yang sudah terekam di benakku hanya bisa kulihat beberapa tahun yang akan datang. Hancur sudah sekolah mewah yang kuimpikan setelah kutemukan hanya ada satu gedung asrama itu pun masih berdindingkan batu-bata. Tiga kelas merangkup satu kantor.Dan yang menyedihkan lagi di sepanjang perkarangan sekolah masih bertanah merah yang belum rata. Ditambah segunung peraturan sekolah yang hampir membuat aku stroke.Jangan ditanyakan seperti apa kecewaku. Aku yang seharusnya bisa bergaya ala anak gaul. Celana jins, baju pas-pasan, rambut panjang di ikat. Harus berubah total menggunakan rok panjang, baju longgar, jilbab yang lebarnya melebihi lebar selimut tidurku, dan juga kemana-mana hurus pakai kaus kaki. Dan labih menyebalkan lagi tak bisa  curi pandang ataupun tebar pesona ala anak SMP. Bagaimana harus curi pandang jika sepanjang hari yang kutemui hanya teman sejenis. Tidak mungkin kan aku harus curi pandang kepada Pak Tukang ?
Sekolahku ini selain harus berpakaian serba tertutup. Juga sangat membatasi pergaulan antara laki-laki dan perempuan. Dengan memisahkan sekolah putra dan putri. . Jadilah aku menangis sepanjang hari mengutuk keputusan yang sudah kupilih.
   “Jas kenapa?” Tanya teman sebangku ketika menemukan mataku membengkak.
     Aku tak menjawab meski mulutnya sudah berbusa-busa bertanya hal yang sama.
    “Jas masih ingat nggak gaya Pak Ali mengajarkan kita?” Dia berhenti bertanya dan mulai menirukan gaya guru bahasa arab kami.

“Haza mauzun!” Tentu saja aku tak bisa menahan tawa melihat xpresinya dengan tubuh di goyang-goyang dan kepala di putar-putar. Mengingatkanku pada actor india di film kuch-kuch hota hai yang berperan sebagai polisi. Dan hari itu persahabatan pun di mulai.
Aku mulai berdamai dengan kenyataan. Membujuk hati untuk betah dengan rok panjang, baju longgar, jilbab lebar, dan kaus kaki meski kadang bolong atas bawah kerana kehabisan stok. Membujuk hati untuk betah dengan setoran hapalan dan mu’faradat. Membujuk hati untuk betah dengan keripik ubi yang menjadi makanan rutin tiga kali sehari. Termasuk membujuk hati untuk betah dengan sahabat asrama yang super eror tak terkecuali aku sendiri. Pernahkah kalian mendengar anak SMA yang menjelang ujian  bukannya exstra belajar malah membentuk grup Band. Jika pernah maka kami lah satu diantaranya.Dyzies begitu nama grup band kami, singkatan dari Dila, Yulmi, Icha, Ema, zita.Eitss, grup band kami bukan band biasa loh . Sedikit berbeda, yang menjadikan  tangkai sapu sebagai micropon, bental sebagai piano, reket sebagai gitar, dan teko air panas sebagai drum. Dan mulailah suara cempreng personil dyzies mangalun yang membawakan lagu pop namun bergoyang ala dangdutan sehingga dinding kamar menjadi retak.
Lain lagi dengan ulah salah seorang temanku yang menjadi tarzan di pohon durian. Eh malah menjadi durian runtuh. Dan aku yang sedang musim sensi tak bisa menahan tawa melihat pipinya berubah biru. Untung saja ketika geliranku yang jatuh tak pernah ada yang melihat. Begitupun cerita lucu ketika seasrama terserang virus itchi. Jari kami berubah jadi seribu. Untuk menulis sekalian menggarut. Untuk makan sekalian menggarut. Pokonya tak rame jika tak menggarut. Bahkan ada yang memilih tak mandi berhari-hari karena khawatir setelah mandi jarinya akan berubah sejuta hahaha. Tapi ada satu kejadian yang sampai hari ini masih membuat aku senyum-senyum sendiri.
Ceritanya aku kehilangan dompet. Heboh lah satu sekolah sampai melapor ke wakil kepala sekolah.
“Pak, Jasmawati kehilangan dompet.” Adu salah seorang temanku.
“Udah di cari di asrama?”
“Udah Pak tapi nggak ada.” Jawab temanku ini begitu semangat mungkin terlalu kasihan dengan wajahku yang memang menyedihkan.
Jadilah hari itu semua siswa dikumpulkan
“Siapa yang kedapatan mencuri dompet temannya siap-siap lah menerima hukuman.” Begitulah kira-kira ancaman dari Bapak.
Aku dengan mata yang sudah bengkak (dulu aku suka sekali menangis bahkan pernah nangis sampai guling-guling dalam kasur) kembali lah ke asrama. Entah kenapa tiba-tiba ada yang keras di dalam bantalku. Kalian tahu apa? Ternyata dompetku tidak dicuri hanya aku yang lupa meletakkannya. Sejak hari itu aku tak berani lagi ke kantor apalagi ketemu dengan Bapak wakil kepala sekolah. malauuuuuuuuuuuu
Kisah asrama tak hanya berkisah tentang lucu. Perang dunia pun hampir terjadi. Aku masih mengingatnya, salah seorang teman mendatangi kamarku dengan wajah yang memerah tanpa basa basi langsung meninju dinding kamarku. Aku tak terima dengan sikapnya  pun membalas dengan kata-kata sedangkan tubuhku sudah gemetaran. Untung saja ada pihak kedua, ketiga, dan keempat yang menenangkan kami. Sehingga tak terjadi pertumpahan darah. Hanya saja aku dan dia sama-sama menangis. Dan beberapa hari kemudian kembali membaik. Jika diingat kembali bukan menjadi kenangan yang tragis, tetapi kenangan yang menggelikan. Tarnyata dulu hampir saja kami menyaingi posisi depe dan jupe. Hahaha.
Seiring berjalannya waktu aku mulai terbiasa dengan kehidupan asrama. Mulai menyukai baju longgar, rok panjang, jilbab lebar, kaus kaki. Dan juga hubungan berjarak dengan lawan jenis. Seharusnya begini lah gaul yang harus kupahami. Tentunya tak hanya membuat aku istimewa di mata manusia, tapi juga di mata Tuhanku. Begitupun dengan sholat yang membuat aku gelisah jika meninggalkannya. Bahkan aku mulai jatuh cinta dengan membaca. Sebuah jalan yang membawaku menjadi pengkhyal sejati. Hampir setiap bukuku di penenuhi cerpen-cerpen yang menjadi pengantar tidur teman-temanku. Anehnya, aku yang nulis malah aku yang girang setiap kali membacakannnya seperti fall in love. Untung saja tidak sampai loncat-loncat. Meskipun awalnya banyak yang mengejak cerpen yang kutulis beraliran bahasa Indonesia raya. Tapi aku tak peduli tetap saja menulis yang kemudian malah nular ke warga seasrama. Jadilah musim cerpen yang memenuhi buku-buku kami. Kemeran sempat membuka kembali buku-buku SMA yang di penuhi cerpen. Sampai-sampai aku bingung dulu aku jurusan sastra atau Ipa ya?. Tapi untung saja cerpen yang kutulis tak pernah tertangkap Umi ataupun Ustadz. Seperti cerpen salah seorang temanku yang dibacakan ustadz di depan kelas  berkisah tentang cinta. Alamak.
Terakhir aku hanya ingin mengatakan kalian adalah biru yang menjadikan putih tak lagi kosong. Uhibbuki fillah ^_^

1 komentar:

parida ariani mengatakan...

hahhhahhahahaha
kereeennn
IT is the best :)