Sabtu, 10 September 2011

Spenggal Kisah Di Kepenuhan Jaya


Di luar mendung begitu pekat seolah ikut menyelusup ke dalam rasaku.
“Kita nggak jadi pulang!!!!” Teriakan Pendi salah satu teman satu posko denganku menambah gundah di hatiku.
“Hari ini harus pulang.” Tegasku dalam hati, dengan bayangan kampung halaman yang terus melintas di benakku.
Hampir dua bulan sudah aku berada di sini. Melaksanakan KKN. Di sebuah desa yang sangat jauh dari keramaian, namun jaya seperti namanya Kepenuhan Jaya.
Ingatanku kembali saat pertama kali aku menginjakkan kaki di desa ini. Ingin nangis. Itu kesan pertamaku. Bagaimana tidak nangis hampir satu hariaan menempuh perjalan jauh dengan debu-debu yang sudah melumuri dari ujung kepala sampai ujung kaki karena jalan menuju desa Kepenuhan Jaya belum beraspal. Jika musim kemarau harus rela bermandikan debu. Bukan hanya masalah debu, tapi juga sulit air. Jangankan untuk mandi, air untuk wudhuk saja harus menempuh hutan sawit dulu. Masih ku ingat hari pertama kami di sini, aku dan empat orang teman cewek lainya berubah menjadi wanita tangguh nan berani, bayangkan saja jam 4.00 pagi kami mandi di sebuah sumur yang harus melewati sawit-sawit. Tidak ada lagi rasa takut yang kami pikirkan saat itu hanya air, air, dan air. Inilah namanya the power of kepepet.
Seminggu sudah hari yang kulewati di sana, tapi wajahku masih tetap murung, sedih, jenuh,dan yang kupikirkan hanya pulang,pulang, dan pulang. Opss ada satu hal yang terlupakan, di sana selain susah air, susah jalan, dan juga susah sinyal jadi lengkaplah penderitaanku. Aku harus berlarian dulu ke bawah pohon sawit untuk sekedar menelpon atau membalas sms.
Memasuki minggu ke dua, persaanku masih tetap sama tidak berubah. Malah aku yang biasanya jarang menitikkan air mata saat curhat, tapi kali ini aku menangis saat seperti anak kecil saat menelpon dengan senior-seniorku. Aku lupa kalau saat itu,aku sudah berumur 21 tahun.
Memasuki pertengahan minggu ke dua ada sedikit perubahan karena sudah mulai bersosialisasi dengan masyarakat sana yang sangat bersahabat karena rata-rata adalah orang jawa yang sudah sangat terkenal dengan keramahan dan kelembutan. Kami mulai ikut berpartisipasi dengan kegiatan masyarakat sana. Mulai dari yasinan, sholawat nabi, belajar rebbana sampai menjadi tenaga pengajar di beberapa Sekolah yang berada di sana. Aku yang awalnya tidak begitu suka dengan anak-anak, tapi entah kenapa di sana bisa menjadi keibu’an dadakan. Melihat tawa mereka,kepolosan mereka, dan juga mendengarkan celoteh tentang mimpi-mimpi mereka.
“Aku bisa, kamu bisa, dan kita luar biasa.” Kata-kata inilah yang selalu kami ucapkan bersama saat kami bercerita tentang mimpi. Kata-kata yang kudapatkan saat mengikuti training motivsi. Dan kuceritakan juga kepada mereka tentang laskar pelangi karena aku berharap suatu hari nanti diantara meraka ada yang mengikuti jejak Aray salah satu tokoh di laskar pelangi.
Semenjak mengenal mereka, pelangi kecilku (murid-muridku). Ada warna baru yang hadir dalam jiwaku ternyata aku bisa juga menjadi dewasa. Saat sabar mengadapi kebandelan mereka, meleraikan saat mereka berantem. Memberikan secercah harap untuk mereka berani bermimpi, meminjamkan pundakku dan menghapus air mata mereka saat mereka bersedih.
KKN, bukan hanya pelangi saja yang aku jumpai, tapi juga sebuah ukuwah yang terjalin di antara kami 10 Ng, Ngarim, Ngabdul, Ngelva, Ngema, Ngepen, Ngedeb, Ngeka, Ngedha, Ngeni,dan Ngemet.Nama pemberian kordes sebagai bukti bahwa kami adalah kelompok ngenge (Ketawa) yang menandakan kami selalu bahagia. Walaupun mengakibatkan kekeringan pada gigi. Awalnya di minggu pertama di posko, aku masih tampil kalem ( kayak lembu kali ya), minggu kedua masih ngirit bicara,tapi saat memasuki minggu ketiga mulai deh terlihat wujud asli (sedikit eror, sedikit lola, dan sedikit culun). Banyak hari yang kami lewati bersama. Mulai dari hal yang sangat menyedihkan,menyebalkan, bahagia sampai yang mememasak bubur kacang merah di campur bawah putih, ini mah masakan si koki selamat yang ujung-ujung aku yang jadi korban yang memang bermasalah dengan perut. Tapi diantara kami tidak ada yang terserang virus strawberry, virus yang selalu menyerang mahasiswa KKN, tetapi tidak untuk kelompok kami karena kami adalah saudara. Saudara saat mendapat omelan dari Ibu Pkk karena kami tidak bisa menghadiri undangnya di karnakan seharian kami belum mandi karena tidak menjumpai air. Saudara saat piket bersama dengan makan apa adanya walaupun kadang ada yang gosong, saudara saat pulang bersama dari kecamatan seperti pulang dari sawah bermandikan lumpur karena hujan, dan kami harus berguling dengan motor melewati jalan yang licin.Saudara saat kegiatan kami mendapat protes dari warga. Saudara saat kami setiap sore harus cek sumur dari satu rumah ke rumah yang lain untuk kami bisa mandi, saudara saat kami harus sama-sama menguatkan hati katika mendapatkan tekanan dari mantan pskibraka dalam melaksanakan upacara 17 Agustus. Dan Saudara saat kami di bulan romadhon bersama-sama keliling kampung. Menuju satu mesjid ke mesjid lain,menuju satu musolah ke musolah yang lain untuk memberikan santapan rohani.Diantara lima Desa yang berada di kecamatan kami, Desa kamilah yang paling ujung dan paling menyedihkan, tapi desa kami pula yang paling aktif dan paling kaya. Bagaimana tidak kaya saat teman-teman di Desa yang lain sibuk mepersiapkan kompor, kasur, tikar untuk di bawa ke tempat KKN sedangkan kami hanya membawa tas baju karena semua kebutuhan kami sudah di sediakan oleh Kades. Saat teman-teman di desa yang lain sibuk iuran untuk acara kegiatan. Sedangkan kami tidak perlu menguras uang dari kantong pribadi karena sudah di sediakan oleh Desa. Malah kas kami bisa untuk bagi-bagi THR. Biarkan saja susah air, susah jalan, susah sinyal yang penting desanya jaya dan kaya.
“Suasana seperti ini lebih terasa KKNnya.” Komentar salah seorang teman seposkoku saat kami mengeluhkan kondisi Desa kami yang sangat memperhatinkan. Ternyata benar,KKN nya lebih terasa. Banyak pengalaman, banyak inspirasi, dan banyak hikmah yang dapat aku bawa pulang. Salah satunya adalah syukur. Karena tinggal di tempat yang banyak air,tidak perlu keliling kampung dulu untuk mencari sumur.Jaringan bagus tidak perlu ke atas sawit dulu untuk mencari sinyal,Jalannya bagus tidak akan ada debu saat musim kemarau, tidak perlu menggunakan sepatu both ataupun bergulingan dengan motor saat musim hujan. Dan juga syukur karena mendapatkan pengalaman yang jika di ceritakan tujuh turunan tidak ada habis-habisnya.
***
“Ema nggak jadi pulang.” Ejek Pendi yang sepertinya senang melihat kegundahanku. Temanku yang satu memang sedikit usil.
Tapi beberapa menit kemudian sebuah mobil xenia parkir di depan posko kami.
“Kita jadi pulang.” Teriak Elva girang.teman yang selalu berbagi ngenge denganku.kadang tidak jelas alasan kami ketawa hanya karena salah mengucapkan kata, atau berbicara berulang kali. Apalagi jika di tambah dengan si Arim. Hmm…mungkin ada melipat jidad melihat kami (memang sedikit aneh).
Seulas senyum mengembang di wajahku, tapi senyumku tiba-tiba layu saat kudengar sebait kalimat dari Roza salah satu adik yang dekat denganku.
“Kakak, jadi pulang?” Tanyanya dengan mata berkaca-kaca.
“InsyaAllah jadi dik.” Jawabku berusaha tersenyum ke arahnya.
Ia hanya menunduk.
Kuserahkan beberapa amplop untuknya yang berisi foto dan selembar surat cinta. Aku tahu kenang-kenangan dariku tak sebanding dangan kado-kado dan surat cinta yang telah ia dan teman-temannya berikan untukku.
“Kakak titip untuk teman-teman yang lain ya dik.” Ucapku kerana hanya dia dan beberapa temannya yang datang, karena hari hujan tidak banyak yang melihat kepergian kami. Coba saja tidak hujan mungkin akan terjadi banjir di musim kemarau. Banjir air mata melepaskan kepergiaan kami.
Sekitar jam 12.30 mobil xenia yang akan mengantarkan kami pulang ke kampung halaman meluncur di jalan.
“Selamat tinggal kepenuhan jaya. Aku pulang membawa kotak inspirasi dengan sejuta pengalaman yang sangat berharga.” Ujar batinku dengan hati yang terasa sedikit ngilu.

***
Kak Ema, kapan kesini?
Kak Ema, kalau kesini lagi jangan lupa bawa O2!
Kak Ema, aku kangen sama kakak
Kak Ema, cepat pulang ya kak!
Itulah beberapa kalimat yang selalu di ucapkan pelangi kecilku setiap kali menelpon, yang kadang menyebabkan sungai kecil di pelupuk mataku mengalir mengingat berjuta kenangan yang pernah kami ukir bersama.
Suatu hati nanti kakak akan kesana dek, membawa Oleh-oleh sebuah undangan berwarna merah hati seperti yang pernah kakak janjikan kepada kalian. ^_^

1 komentar:

Arda Dwi Cahyo Ruspianof mengatakan...

keren kak. salam dari kepenuhan jaya. ditunggu kunjungannya di ardaruspianof.blogspot.com