Minggu, 12 Mei 2013

Lelaki Yang Akan Menikahiku Kelak


Lelaki yang akan menikahiku kelak
tidaklah semulia Muhammad
tidak setaqwa Ibrahim
tidak sepandai Sulaiman
tidak secerdas Isa
tidak seberani Ismail
apalagi setampan Yusuf
Tapi hanya lelaki akhir zaman yang berusaha menjadi shaleh.
Karena akupun
tak semulia Khadijah
tak secerdas Aisyah
tak secantik Bilqis
tak pula setaqwa fatimah
akupun hanya wanita penuh dosa yang mencoba menjadi shalehah


Seperti sebuah perahu, berlayar melewati aliran sungai menuju laut bahkan samudra. Hingga menemukan pelabuhan untuk berhenti. Begitu pula dengan hati, esok ketika Allah telah piihkan waktu yang tepat


Selasa, 23 April 2013

Kuliah Twit Persiapan Nikah @salimafillah

Kuliah Twit Persiapan Nikah @salimafillah
Oleh: Ustd. Salim A. Fillah

1. Dalam isyarat Nabi tentang #Nikah, ialah sunnah teranjur nan memuliakan. Sebuah jalan suci untuk karunia sekaligus ujian cinta-syahwati.


2. Maka #Nikah sebagai ibadah, memerlukan kesiapan & persiapan. Ia tuk yang mampu, bukan sekedar mau. “Ba’ah” adalah parameter kesiapannya.

3. Maka berbahagialah mereka yang ketika hasrat #Nikah hadir bergolak, sibuk mempersiapkan kemampuan, bukan sekedar memperturutkan kemauan.

4. Persiapan #Nikah hendaknya segera membersamai datangnya baligh, sebab makna asal “Ba’ah” dalam hadits itu adalah “Kemampuan seksual.”

5. Imam Asy Syaukani dalam Subulus Salam, Syarh Bulughul Maram menambahkan makna “Ba’ah” yakni: kemampuan memberi mahar & nafkah. #Nikah

6. Mengompromikan “Ba’ah” di makna utama (seksual) & makna tambahan (mahar, nafkah), idealnya anak lelaki segera mandiri saat baligh. #Nikah

7. Jika kesiapan #Nikah diukur dengan “Ba’ah”, maka persiapannya adalah proses perbaikan diri nan tak pernah usai. Ia terus seumur hidup.

8. Izinkan saya membagi Persiapan #Nikah dalam 5 ranah: Ruhiyah, ‘Ilmiyah, Jasadiyah (Fisik), Maaliyah (Finansial), Ijtima’iyah (Sosial)

9. Persiapan #Nikah perlu start awal. Salim nikah usia 20 th, tapi karena persiapannya dimulai umur 15 th, maka tak bisa disebut tergesa.

Senin, 22 April 2013

Apa Kabar?

        Apa kabar?  Kalimat ini terasa kaku sekali bukan? Seharusnya wajar saja jika aku bertanya kabarmu untuk wajah kita yang lama sekali tak saling bersitatap. Mungkin hampir setahun. Rindu? Tentu saja seperti senja kita yang masih saja ranum, masih saja indah, masih saja istimewa yang masih meyediakan ruang untuk kita berbincang  sederhana tentang mimpi-mimpi kita.

        Apa kabar? Kudengar dari angin kau sudah menyelesaikan kuliah kedokteranmu. Selamat aku ikut bahagia, akhirnya mimpimu menjadi nyata. Bagaimana dengan lelaki ilalangmu? Bukankah kau dulu sangat ingin menikah dengan lelaki yang menghadiahkan seribu ilalang untukmu? Konyol sekali bukan ? Sama konyolnya dengan impian cinderelaku.

Minggu, 14 April 2013

Aku Menyebutnya Rumah


Aku menyebutnya rumah. Di sini kami menanam mimpi berharap setiap katanya tumbuh menjadi mawar yang wanginya sebagai pengantar kami ke syurga InsyaAllah.
            “Ema mau jadi pengurus Flp?” sepotong sms dari salah seorang teman sekitar dua tahun  lalu yang menawarkanku menjadi bagian dari keluarga flp.
            Bahagia, mungkin begitu aku bisa mendefenisikan hati. Walaupun setahun sebelum tawaran itu datang aku sudah resmi menjadi anggota flp. Hanya saja kerena aku orangnya biasa-biasa saja dan cendrung pemalu sehingga radar flp tak bisa mendeteksi kebaradaanku saat itu.Tapi ibarat kata pepatah, jodoh itu tak akan kemana. Begitu pula jodohku dengan flp.
            Bermula menjadi pengurus di bidang kaderisasi. Bermodalkan semangat 45 menjalin hubungan sksd dengan pengurus terutama akhwat. Yang malah sempat terjadi perkenalan yang cukup menggelikan jika di putar ulang.

Jumat, 12 April 2013

Aku dan Duniaku Yang Hilang


Aku kehilangan duniaku Dey, dunia yang dulu pernah kuletakkan mimpi setinggi langit seterang bintang gemintang. Menjadi penulis, begitu mimpiku kuat sekali. Meski hampir seluruh tulisanku kadang datar, kebanyakan berputar-putar, sering juga buntu. Tapi semangat selalu memberikan jalan.
“Jika tidak minggu ini mungkin minggu depan atau minggu depan atau minggu depan atau minggu depannya lagi.” Sederat kalimat motivasi yang kutanam dalam-dalam saat puluhan tulisan kukirimkan ke berbagai media. Tapi itu dulu di bulan yang tertinggal

Senin, 25 Maret 2013

Rumah Tangga Dakwah

                                                             Oleh: Sinta Yudisa
Cinta & Pernikahan Tanpa Dakwah

Suatu ketika putriku bertanya, “ Ummi nggak pernah berantem sama Abah?”
Bohong kalau kukatakan ,” nggak pernah sama sekali!”
Bagaimana mungkin dua orang yang tak pernah saling mengenal sebelumnya, hidup seatap, mencoba senasib sepenanggungan, menghadapi aral melintang menghadang, satu demi satu anak lahir dan besar melalui tahap demi tahap perkembangan ; semua dihadapi adem ayem penuh senyum tawa tanpa sekalipun duka, marah, jengkel, gundah gulana?

Tentu pernah kami saling tersinggung, diam seribu bahasa, mencoba menjaga jarak, sebelum salah satu bersikap rendah hati meminta maaf terlebih dahulu. Tapi apa yang membuat sebuah pernikahan melewati tahun demi tahun, membentur tembok kesukaran, sesaat kapal oleng, dan kami tetap saling berpegangan tangan mencoba bertahan dalam badai?

*Tujuan pernikahan*

Kalau tujuan berpasangan hanya semata urusan biologis semata, sampai kapan bertahan? Terlebih secara fisik, baik lelaki dan perempuan tak akan mampu terus menerus memiliki hasrat besar. Lebih dari sekedar biologis, fisiologis; maka pernikahan tak hanya didasarkan urusan fisik semata. Wajah boleh ayu tampan setahun lima tahun ke depan, sesudah punya anak satu dua tiga dan seterusnya, digerus permasalahan hidup dan ekonomi; rupawan tak lagi bertahan.

Rabu, 20 Maret 2013

Bukit Bintang


Pernahkah kau mendengar tentang bukit Bintang Dey?
Dulu seseorang pernah mengatakan kepadaku
Dari sana kau bisa melihat bintang lebih dekat dan menghitungnya
Maka sebanyak itu pula kau menyimpan rindu untuknya
Kau tahu Dey?
Sejak hari itu aku ingin sekali ke sana
Menghitung rindu untuk sepotong nama yang tak pernah kusimpan dalam doa
Hanya meminta kepada Allah
Agar berkenan melihat hatiku saat ini
Dan menuntunnya ke hati yang tepat
Entah dia entah siapa?

Minggu, 17 Maret 2013

Cinta Itu Tak Bernama Luka


            Hujan kembali membuat kota kecil kita menjadi  basah Sha. Kuharap kau baik-baik saja seperti doa yang kutitipkan pada rintik. Sebab aku tahu hujan kali ini  juga ikut  membuat hatimu basah.
            “Dia akan menikah ” Ujarmu dengan suara yang nyaris tak terdengar, namun aku bisa merasakan getaran isak yang coba kau tahan. Saat kenangan dengannya kembali tumbuh di matamu. Lelaki yang hampir tiga tahun lamanya melengkung indah di hatimu.
            Tentu saja ini menyakitkan untukmu Sha. Dia yang kau muarakan segala harap ternyata diam-diam mencari hati lain untuk disinggahi.
            “Bagaimana lagi kita bukan jodoh.” Sederet alasan terakhir darinya tanpa sedikit pun peka dengan hatimu.  Andai saja aku yang berada di posisimu tentu sudah kutemui dia dengan membawa palu raksasa, opss.  Tidak adakah cara yang lebih baik lagi untuk mengakhiri segalanya. Seperti caranya pernah membuat wajahmu bersemu merah. Tentu  luka tak akan begitu sakit, bukan hanya di hatimu  tapi juga di hati orang tuamu yang sudah teramat paham dengan hubungan kalian. Entahlah, benarkah hati hanya  sebagai mainan saja atau cinta  memang harus serumit ini?